Tampilkan postingan dengan label Inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiration. Tampilkan semua postingan

Hari Bahagia



Pada lembar terakhir sebuah undangan pernikahan tertulislah puisi hati :

Alhamdulillah, Terimakasih Ya Rabb..
Takdir-Mu telah mempertemukan kami
Disini dititik perjumpaan ini


Kini waktunya sudah sampai, setelah penantian dalam kesadaran
Kini pencarian sudah selesai, saat kami memantapkan pilihan hati

Kini dua hati, dua ciri berjumpa dalam cinta murni
Kini dua hati, dua ciri bersatu dengan ikatan suci


Kami sadar, titik perjumpaan ini hanyalah awal dari kelanjutan garis panjang kehidupan
Saat dimana kesetiaan cinta akan diuji
Juga kekuatan dan kearifan cinta akan dicoba

Bismillah, doa kami Ya Rabbi
Semoga kami dapat menunaikan ibadah dan sunnah Rasul ini dengan baik
Semoga harmoni semoga abadi
Dalam naungan Ridho Ilahi
(Rachmat & Asri -Insya Allah-)



Sebuah puisi yang menggugah jiwa karena terlahir dari kejujuran hati dengan segenap penghambaan diri kepada Rabb Sang Pemilik Jiwa.



Sabtu, 4 Februari 2012


Pernikahan suci seorang teman akhirnya terlaksana juga.
Barokallahu laka wa baraka 'alaika, wa jama'a bainakuma fi khoir...



Tepat pada hari ini 2 kebahagiaan datang...
Hari ini genap 25 tahun usiaku dan juga seorang teman yang mengakhiri masa lajang-nya.
Semoga hari ini menjadi hari yang penuh barokah dan berlimpah kebaikan.
Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Bertahanlah untuk Tetap Setia

  
Burung betina ini tertabrak mobil karena terbang terlalu rendah. Ia terkapar tak berdaya. Beberapa kali, dengan penuh cinta, sang jantan membawakan kekasihnya makanan. Lagi, ia membawakan makanan tapi sang betina telah meninggal.

Jantan itu mencoba menggerakan tubuh pasangannya untuk memastikan apa yang terjadi. Sadar bahwa belahan hatinya telah tiada dan tak akan kembali, ia berkicau keras meratapi kepergian pasangannya, tanpa beranjak dari jasad kaku sang kekasih.

Jutaan orang di dunia menangis usai melihat rangkaian gambar yang dibidik seorang wartawan ini. Dimulai saat si betina tertabrak, diberi makan berkali-kali oleh pasangannya, sampai tak bergerak lagi. Si wartawan menjual foto-foto tersebut ke salah satu koran terbesar di Perancis. Seluruh eksemplar koran tersebut habis terjual ketika gambar-gambar ini dimuat.

Kesetiaan memang menyentuh relung hati, tak peduli siapa pelakunya. Bahkan, kisah Hachiko, anjing yang sangat setia menanti tuannya selama 10 tahun di Stasiun KA Shibuya, Tokyo, sangat melegenda. Hachiko tidak tahu bahwa Profesor Ueno, tuannya, telah meninggal di kampus tempatnya mengajar. Ia terus menjemput ‘tuannya yang hilang’ selama bertahun-tahun sampai ajalnya sendiri tiba. Patung tembaga Hachiko sekarang menjadi monument ‘kesetiaan’ di stasiun tersebut.

Kisah kesetiaan, apalagi harus berakhir dengan perpisahan, selalu membuat air mata saya merebak. Tapi mengapa saya harus mengambil ilustrasi hewan sebagai ‘wajah’ kesetiaan? Sebab, bila itu dilakukan manusia, tentulah wajar. Kita punya akal dan nurani. Sedangkan hewan, yang hanya memiliki hawa nafsu, dari mana ia belajar arti setia?

Namun, di sinilah masalahnya. Sesuatu yang wajar ternyata tidak otomatis mudah didapat. Kesetiaan manusia sering tercampuri oleh berbagai kepentingan untung rugi, karena akalnya tahu untung itu enak dan rugi itu tidak enak. Keuntungan versi pikiran seringkali mengalahkan nurani. Jadilah kesetiaan semakin sulit ditemui dalam jiwa manusia kini.

Padahal orang yang sangat tidak setia sekalipun, tetap ingin diberi kesetiaan. Bahkan Allah swt saja sangat gembira mendapati hamba-Nya yang kembali setia pada-Nya, melebihi kegembiraan seoran musafir yang menemukan kembali untanya yang hilang.

Kesetiaan cepat atau lambat akan melahirkan banyak kebaikan. Ia bisa menumbuhkan semangat, cinta, rindu, kepercayaan diri, dan loyalitas seseorang untuk kita. Bahkan kepedihan pun akan menjadi sangat agung, ketika takdir menentukan kesetiaan harus terpisahkan maut.

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS Al Fath [48] : 10)

Jika memang ganjaran kesetiaan begitu indah, mengapa harus sulit untuk bersikap setia? Bukan hanya bagi pasangan, orang tua yang tak pernah pamrih, perusahaan yang member gaji walau kerja tak maksimal, negara tempat kita berpijak, bahkan Tuhan semesta alam menanti kesetiaan kita dengan imbalan yang tidak tanggung-tanggung : kenikmatan hidup di dunia dan akhirat.

Mari berusaha setia pada janji yang pernah tercetus, pada kebaikan perilaku yang telah kita rintis, dan pada kemuliaan ibadah yang mulai meningkat. Sehingga tak pernah akan terucap dari lisan kita, “Dulu ibadahku (atau kecintaanku padanya) lebih baik dari sekarang.”

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al-An’am [6] : 162)

Dikutip dari Majalah Ummi edisi September 2010

Setia sampai tua, pada-Nya dan padanya…

Rabu, 05 Mei 2010 01.34 by Sinta_Fabriela 0 komentar
Kulipat sajadahku selepas salam dan doa. Kemudian aku mulai beranjak dari tempat semula aku shalat maghrib di sebuah masjid yg indah di perumahanku. Setelah beberapa langkah aku berjalan dan belum sampai keluar dari masjid aku melihat seorang ibu2 yg sudah tua, lebih tepatnya dipanggil nenek. Beliau sedang berdiri didekat pintu keluar. Kuperhatikan erat-erat. Nampak banyak sekali keriput di wajahnya dan sudah tidak berdiri tegap badannya. Kalau ditaksir mungkin 80 tahunan usianya. Tatapan matanya menunjukkan ketenangan, teduh dan tidak nampak sedang terbebani oleh pelbagai masalah hidup. Hanya saja aku menangkap sesuatu yang sedang ditunggu oleh nenek itu. Kalau kukira beliau sedang mencari sandal, mengapa nenek itu tidak segera mencarinya padahal jamaah yang lain belum ‘berebutan’ untuk mencari sandal? Karena penasaran maka sengaja kuperlambat jalanku dan berpura-pura sedang ngapa2in lah pokoknya agar bisa lama dan aku tahu jawabannya.

Tak berapa lama kemudian, ooooh… ternyata nenek itu sedang menunggu seseorang dari arah jamaah laki2, karena kemudian kulihat sosok seorang kakek berjalan menuju ke arahnya. Kemudian mereka bersama mencari sandal masing2 dan kemudian berjalan bersama untuk pulang. Subhanallah… sebuah pemandangan yang indah kurasa. Dan ternyata itu tidak hanya terjadi satu dua kali saja, namun berkali-kali. Wah… so sweat sekali… Padahal dengan usia sesenja itu tidak banyak yang masih bersemangat untuk kemasjid, namun tidak untuk sepasang suami istri yg sudah lanjut usia itu. Kejadian itu cukup bisa menandakan bahwa kehidupan rumah tangga mereka masih langgeng sampai pada usia mereka sudah lanjut. Semoga kelak aku dan suamikupun bisa seperti itu… =)

Waktupun terus berjalan. Setelah selang waktu yang cukup lama aku tidak shalat berjamaah dimasjid, pada suatu hari aku ingin lagi berjamaah di masjid yang bersih dan luas itu. Saat bersama2 jamaah lain beranjak pulang, sebuah pemandangan asing mengagetkanku. Kulihat kakek yg biasa berangkat bersama istrinya itu duduk di kursi roda setelah sampai di halaman masjid. Kemudian didorong oleh anak lelakinya yang dia sendiri sdh pny cucu (klo begitu kakek itu sdh pny cicit). Pikiranku sudah mulai kemana-mana mencari berbagai kemungkinan mengapa kakek itu memakai kursi roda sekarang? Tidak lama kemudian kudengar seorang bapak2 menanyakan kepada kakek itu mengapa sekarang memakai kursi roda.

“Lho.. Eyang sekarang pakai kursi roda ya?” tanya seorang bapak2 jamaah masjid.
“Oh, ini biar Bapak tidak kecapekan jalan Pak” jawab anak lelaki kakek itu.
Kalau untuk berjalan di dalam masjid dan berdiri untuk shalat saja sepertinya kakek itu masih sanggup. Namun untuk berjalan pulang-pergi kemasjid sepertinya memang butuh kursi roda agar kakek tidak kelelahan. Karena perhatian sang anak maka diputuskannyalah untuk setia mendorong ayahnya dari rumah menuju masjid.

Subhanallah… Karena kecintaan dan kesetiaan yang tinggi kepada Allah serta kerinduan untuk senantiasa mendatangi rumah Allah itulah yang kemudian membangkitkan semangat seorang kakek dan nenek tua tersebut untuk rajin shalat berjamaah dimasjid. Dan dengan semangat birrul walidan yang tulus, maka seorang anakpun rela mendorong kursi roda ayahnya setiap kali si ayah hendak ke masjid untuk shalat berjamaah.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al Israa’ 17 : 23).

Sebuah pemandangan kehidupan yang membuatku bisa terharu setiap kali aku kemasjid. Belum lagi ketika memperhatikan derap langkah kakek dan nenek itu saat berjalan bersama… kecepatannya tidak lebih dari sepertiga derap langkah kakiku saat berjalan. Pelaaaan sekali… Ya Allah… rasa-rasanya ingin sekali aku memeluk mereka sebagai tanda kasih sayangku yang langsung kuberikan walaupun pada saat itu baru beberapa kali bertemu. Dan terus teringat doa keselamatan untuk mereka, terutama agar diberikanNya khusnul khotimah jika kelak mereka dijemput Allah. Amin Ya Allah.

Jeda beberapa pekan lamanya aku tidak kemasjid, keinginan untuk jamaah di masjid muncul kembali. Ini mengingat aku adalah seorang perempuan, maka sengaja tidak kubuat sering2 aku shalat jamaah dimasjid karena tempat palling baik bagi shalat seorang perempuan adalah dikamarnya. Namun aku juga tidak mempersulit atau mengekang diri untuk selalu dirumah. So its easy going. Lama tidak kemasjid, ketika kemasjid bertemu kembali dengan si nenek. Eh ketemu si nenek… Alhamdulillah masih rajin aja tu nenek, batinku. Lalu kusempatkan untuk menjabat tangannya saat akan berjalan pulang. Dengan seluas senyum yang kuberikan aku tidak menyangka kalau akan dibalas dengan senyuman yang renyah sekali seperti itu. Wuiih.. jadi kebayang kalo aku masih punya nenek… bakalan di’sangu’ni duit terus nih klo pulang ke desa… he2.. Tidak ada yang berubah pada nenek itu. Dalam derap langkahnya…. Pelaaaan sekali.

Pejuang - pejuang itu...

Aku pernah melihat raut wajah seorang pejuang, yang tatapan matanya penuh cita-cita untuk terus memberikan yang terbaik pada orang lain. Mereka adalah orang-orang yang dirindukan dan yang dibutuhkan kehadirannya. Hingga selepas hidupnya pun tetap dikenang. Salah satu yang akan kukisahkan adalah almarhum Pakde (beserta keluarganya) yang beliau adalah sepupu dari ibuku. Keluarga Pakde hidup bersahaja dan oleh karenanya termasuk menjadi panutan masyarakat. Aku yang sudah tidak punya kakek dan nenek merasa mendapat kasih sayang dari Pakde dan Budhe seperti dari sepasang kakek dan nenek sendiri. Mungkin karena usia mereka yang sudah kepala 6. Dan aku yang tidak punya kakak (karena anak pertama) merasa punya kakak dari putra-putri Pakde. Indah rasanya.

Semasa hidupnya, Pakde dan Budhe banyak memberi manfaat untuk warga disekitarnya. Salah satunya yaitu mengajar ngaji anak-anak kecil selepas maghrib dirumahnya. Biasanya Pakde, Budhe, adiknya Budhe (saat blm menikah), dan putra-putri Pakde-lah yang mengajar. Tp ya fleksibel dan gantian, klo putra-putri Pakde sdh plg dr kantor mereka baru bisa membantu. Aku yang beberapa kali mampir setelah pulang kuliah juga diminta membantu mengajar ngaji. Wah rame banget, ternyata susah ngajari anak2 ttg tajwid dan makhroj yg benar, lha hurufnya saja mereka masih suka lupa, hehe. Ya jelas lah ya orang msh kecil2. Eh tapi ada juga anak kls 3 SD yang cepat daya tangkapnya.

Pakde dan Budhe juga mulai merintis pengajian untuk ibu-ibu sekitar rumahnya. Disana blm terbentuk organisasi ibu-ibu pengajian seperti di perumahan2 yang pendidikan warganya tinggi2. Anak-anakanya tidak semua diajari mengaji, bisa jadi karena orang tuanya tidak semuanya bs mengaji atau karena kurang ‘bersemangat’ membekali anak2nya ttg ilmu agama. Bahkan ada yg sampai kena korban kristenisasi. Tp Alhamdulillah klo keluarga Pakde termasuk keluarga yg taat beragama dan beliau berhasil menyekolahkan ke3 anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Pakdhe dan Budhe yg keduanya berasal dr Magelang dan termasuk pendatang di Semarang harus pelan2 menyesuaikan budaya dilingkungan barunya. Pengajian ibu-ibu sepekan sekali itu baru bisa dilakukan dirumah Budhe, terus dilakukan dirumah Budhe. Sehingga yang membuat aku salut yaitu beliau dengan telatennya mengagendakan, menjemput bola dan mengikhlaskan untuk memberi suguhan tiap pekannya. Jadi ibu-ibu yg datang tidak merasa terbebani jika suatu ketika harus digilir dirumahnya dan mengeluarkan biaya untuk menjamu tamu. Sedangkan untuk pengisinya, Budhe cukup punya referensi kenalan pembicara/ustadzah, atau terkadang belilau sendiri yang mengisi.

Pakdhe dan Budhe keduanya memang berlatar belakang sebagai guru. PNS. Dulu ketika putrinya masih SD, putrinya itu sering mengajak sahabat2nya u/belajar bersama sepulang sekolah. Sehingga Budhe terbiasa memberikan les gratis dirumahnya. Ya itung2 sambil nungguin anaknya belajar, sambil ngajari anak orang kan bisa dapat pahala. Salut deh, keluarga yang akademis klo kulihat. Kalau Pakdhe, beliau adalah guru SMK yang sampai akhir masa pensiunnya masih diminta sekolah untuk masih tetap mau mengajar. Karena kekurangan guru di sekolah itu. Dengan jiwa besar, selama 2 tahun lebih beliau masih mau mengajar di sekolah itu walaupun statusnya sudah pensiun. Subhanallah.

Klo tentang putra-putri Pakde, pelajaran yg bisa kuambil dari mereka yaitu mereka suka membaca dan mengoleksi buku-buku, pembelajar, ada yg suka melukis dan berwirausaha (mulai dari kos-kosan, warnet, kerudung, batik, tp sekarang yg eksis yaitu kos-kosan dan warnet saja).

Pada suatu hari, Pakde sakit. Beliau tidak selincah dan seramah biasanya ketika aku datang. Lebih banyak diam. Aku sudah merasa ada yang tidak enak, seperti sebuah firasat, namun hanya terlintas dan kemudian terlupakan, ya sudah begitu saja berlalu. Hari berganti hari sakitnya tambah parah karena sebelumnya dlm keadaan sakit beliau masih berusaha membetulkan genteng dan sempat terjadi keseleo/slh urat. Hingga suatu hari kuterima kabar bahwa beliau sudah dipanggil Allah SWT. Beliau meninggal dalam usia 63 tahun, sama seperti Rasulullah SAW. Semua merasa kehilangan.

Sebelum menutup mata beliau sempat berpesan pada istrinya kalau beliau meninggal nanti tidak usah diadakan pengajian peringatan 40 hari atau 100 hari walaupun dari masyarakat sudah terbiasa dengan hal itu. Beliau sudah berpesan bahwa boleh ada pengajian tapi sampai 3 hari saja dan bukan yasinan dan tahlilan seperti kebiasaan masyarakat, namun membaca Al Quran masing2 orang 1 juz/ khataman Qur’an dan dilanjutkan dengan tausiyah.

Begitu berhati-hatinya belliau sehingga ingin memberikan contoh pada masyarakat bahwa ketika melaksanakan sebuah kegiatan keIslaman hendaknya seperti yang dicontohkan Nabi. Ittiba’ Rasul. Selain itu juga mencerminkan kesederhanaan dengan hanya pengajian 3 hari (tidak 7 hari serta tradisi 40 hari dan 100 hari seperti masyarakat kebanyakan). Sedangkan dalam 3 hari pengajiannya itu, tausiyah yang diberikan oleh pembicara juga berisi nasehat pada masyarakat bahwa tradisi 7hari/40 hari/100 hari seperti di atas bukan merupakan suatu keharusan yang dilakukan masyarakat dan tidak dicontohkan oleh Nabi. Dengan bahasa yang santun dan komunikatif, hal ini perlu disampaikan karena dikhawatirkan akan memberatkan masyarakat yang berbeda2 ekonominya, selain karena Ittiba’ Rasul juga tentunya. Tema lain yang disampaikan yaitu juga mengenai iman kepada takdir dll. Nah disinilah point penting dakwah Islam yang beliau usahakan bahkan ketika beliau meninggal. Menyampaikan kemurnian ajaran Islam berdasar Al-Qur’an dan Sunnah.

Setelah Pakde meninggal, seorang putranya menemukan sepotong kertas bertuliskan terjemah surat Al Maidah ayat 3 yang ditulis oleh Pakde, yang berbunyi : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Surat itu merupakan wahyu terakhir yang diturunkan Allah kepada Muhammad. Ternyata saat hampir meninggal, beliau sudah merasa akan dipanggil di usianya yg ke 63. Seolah seperti telah lega setelah menerima wahyu terakhir dari Allah yang mengabarkan bahwa telah disempurnakan agamanya. Semoga ini menandakan bahwa Allah telah memberikannya Khusnul Khotimah. Sehingga semoga kelak Allah berkenan memasukkan Pakdhe kedalam surga. Harapanku juga, semoga Allah membalas kebaikan Budhe dan memberikannya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Karena tidak akan berkurang harta yang pernah disedekahkan, justru akan ditambah dan digantikan oleh Allah Yang Maha Kaya dan Luas Rezeki-Nya. Amin.

Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk terus berbuat kebaikan dan istiqomah di jalan dakwah walaupun tantangan selalu datang. Insya Allah.

Brigade 2009

Berjaga di garis terdepan
Kokoh dirinya berbanjar

Bergegas penuhi seruan
Mulialah engkau wahai pasukan:
Barisan Siaga Demokrasi Dua Ribu Sembilan

Inspiring Woman

Alhamdulillah, puji syukur tak hentinya ku ucapkan karena Allah telah memberiku banyak nikmat pd hari ini. Hari ini aku menerima taujih dari seorang ustadzah yang hebat. Tampak dari sosoknya, beliau adalah seorang yang berkarakter baik, visioner, cerdas, pembaharu, dan masih banyak lagi. Ustadzah Hardiani Julansari namanya, akrab dengan sapaan bu Wulan.
Dalam doa kami berharap agar kami diberi kecerdasan oleh Alalh secerdas Aisyah, diberi kelembutan dan keteguhan iman seperti Khadijah, se-terampil Zaenab, se-suci Maryam ibunda Isa as... dan seperti muslimah yang sosoknya menjadi teladan bagi banyak orang...
Amin yaa Robbal 'Alamin...

Sekuntum “Cinta” Pengantin Syurga

Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi

dakwatuna.com - “Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah,” Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.

Bila seorang kekasih telah singgah di hati, pikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnit. Rasanya selalu ingin bertemu meski sekejab. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.

Indahnya cinta terjadi saat seorang kekasih secara samar menatap bayangan orang yang dikasihi. Bayangan indah itu laksana air yang menyirami, menyegarkan, menyuburkan pepohonan taman di jiwa.

Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dia termasuk salah seorang yang dikenal sebagai ahli zuhud. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melewati sebuah perkampungan yang banyak dihuni oleh kaum An-Nakha’. Demi melepaskan penat dan lelah setelah berhari-hari berjalan maka singgahlah dia di kampung tersebut. Di persinggahan si pemuda banyak bersilaturahim dengan kaum muslimin. Di tengah kekhusyu’annya bersilaturahim itulah dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita.

Sepasang mata bertemu, seakan saling menyapa, saling bicara. Walau tak ada gerak lidah! Tak ada kata-kata! Mereka berbicara dengan bahasa jiwa. Karena bahasa jiwa jauh lebih jujur, tulus dan apa adanya. Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di ujung lidah. Maka jalinan cintapun tersambung erat dan membuhul kuat. Begitulah sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila. Sebagai anak muda, tentu dia berharap cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan, namun begitulah ternyata gayung bersambut. Cintanya tidak berada di alam khayal, tapi mejelma menjadi kenyataan.
Benih-benih cinta itu bagai anak panah melesat dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejab, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.

Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…Ketika hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Ketika hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…
Ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tertegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
Semakin dalam makna cinta direnungi, semakin besar fakta ini ditemukan. Cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Begitupun dengan si pemuda, dia berpikir cintanya harus terselamatkan! Agar tidak jadi liar, agar selalu ada dalam keabadian. Ada dalam bingkai syari’atnya. Akhirnya diapun mengutus seseorang untuk meminang gadis pujaannya itu. Akan tetapi keinginan tidak selalu seiring sejalan dengan takdir Allah. Ternyata gadis tersebut telah dipertunangkan dengan putera bapak saudaranya.

Mendengar keterangan ayah si gadis itu, pupus sudah harapan si pemuda untuk menyemai cintanya dalam keutuhan syari’at. Gadis yang telah dipinang tidak boleh dipinang lagi. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan belakang, samping kiri, atau samping kanan. Mereka sadar betul bahwa jalinan asmaranya harus diakhiri, karena kalau tidak, justeru akan merusak ’anugerah’ Allah yang terindah ini.

Bayangkan, bila dua kekasih bertemu dan masing-masing silau serta mabuk oleh cahaya yang terpancar dari orang yang dikasihi, ia akan melupakan harga dirinya, ia akan melepas baju kemanusiaannya dengan menabrak tabu. Dan, sekali bunga dipetik, ia akan layu dan akhirnya mati, dipijak orang karena sudah tak berguna. Jalan belakang ’back street’ tak ubahnya seperti anak kecil yang merusak mainannya sendiri. Penyesalan pasti akan datang belakangan, menangispun tak berguna, menyesal tak mengubah keadaan, badan hancur jiwa binasa.

Cinta si gadis cantik dengan pemuda tampan masih menggelora. Mereka seakan menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis berpikir barangkali masih ada celah untuk bisa ’diikhtiarkan’ maka rencanapun disusun dengan segala kemungkinan terpahit. Maka si gadis mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya:
”Aku tahu betapa engkau sangat mencintaiku dan karenanya betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau berkenan, aku akan datang berkunjung ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mau datang ke rumahku.”

Setelah membaca isi surat itu dengan seksama, si pemuda tampan itu pun berpesan kepada kurir pembawa surat wanita pujaan hatinya itu.
“Kedua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar bila aku sampai durhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.”
Pulanglah kurir kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda tadi.
Tawaran ketemuan? Dua orang kekasih? Sungguh sebuah tawaran yang memancarkan harapan, membersitkan kenangan, menerbitkan keberanian. Namun bila cinta dirampas oleh gelora nafsu rendah, keindahannya akan lenyap seketika. Dan berubah menjadi naga yang memuntahkan api dan menghancurkan harga diri kita. Sungguh heran bila saat ini orang suka menjadi korban dari amukan api yang meluluhlantakkan harga dirinya, dari pada merasakan keindahan cintanya.
“Sungguh selama ini aku belum pernah menemukan seorang yang zuhud dan selalu takut kepada Allah swt seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak menyandang gelar yang mulia kecuali dia, sementara hampir kebanyakan orang berada dalam kemunafikan.” Si gadis berbangga dengan kesalehan kekasihnya.

Setelah berkata demikian, gadis itu merasa tidak perlu lagi kehadiran orang lain dalam hidupnya. Pada diri pemuda itu telah ditemukan seluruh keutuhan cintanya. Maka jalan terbaik setelah ini adalah mengekalkan diri kepada ’Sang Pemilik Cinta’. Lalu diapun meninggalkan segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.

Bila kerinduan kepada kekasih telah membuncah, dan dada tak sanggup lagi menahahan kehausan untuk bersua, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwudlu. Shalatlah dia dikegelapan gulita, lalu menengadahkan tangan, memohon bantuan Sang Maha Pencipta agar melalui kekuasaa-Nya yang tak terbatas dan dapat menjangkau ke semua wilayah yang tak dapat tersentuh manusia., menyampaikan segala perasaan hatinya pada kekasih hatinya. Dia berdoa karena rindu yang sudah tak tertanggungkan, dia menangis seolah-olah saat itu dia sedang berbicara dengan kekasihnya. Dan saat tertidur kekasihnya hadir dalam mimpinya, berbicara dan menjawab segala keluh-kesah hatinya.

Dan kerinduannya yang mendalam itu menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhirnya Allah memanggil ke haribaanNya. Gadis itu wafat dengan membawa serta cintanya yang suci. Yang selalu dijaganya dari belitan nafsu syaithoni. Jasad si gadis boleh terbujur dalam kubur, tapi cinta si pemuda masih tetap hidup subur. Namanya masih disebut dalam doa-doanya yang panjang. Bahkan makamnya tak pernah sepi diziarahi.

Cinta memang indah, bagai pelangi yang menyihir kesadaran manusia. Demikian pula, cinta juga sangat perkasa. Ia akan menjadi benteng, yang menghalau segala dorongan yang hendak merusak keindahan cinta yang bersemayam dalam jiwa. Ia akan menjadi penghubung antara dua anak manusia yang terpisah oleh jarak bahkan oleh dua dimensi yang berbeda.
Pada suatu malam, saat kaki tak lagi dapat menyanggah tubuhnya, saat kedua mata tak kuasa lagi menahan kantuknya, saat salam mengakhiri qiyamullailnya, saat itulah dia tertidur. Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.
“Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?” Tanya Pemuda itu di alam mimpinya.
Gadis kekasihnya itu menjawab dengan menyenandungkan untaian syair:

Kasih…
cinta yang terindah adalah mencintaimu,
sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.
Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu
burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.
Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, “Di mana engkau berada?”

Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:
Aku berada dalam kenikmatan
dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir
berada dalam syurga abadi yang dijaga
oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa
yang akan menunggu kedatanganmu,
wahai kekasih…
“Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu!” Pemuda itu mencoba merespon syair kekasihnya
“Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, hingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku!” jawab si gadis kekasihnya itu.
“Bilakah aku dapat melihatmu kembali?” Tanya si pemuda menegaskan
“Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari,” Jawab kekasihnya.
Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mewafatkan dirinya. Allah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat menghadirkan romantismenya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi pengantin syurga.

Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).
dari Raja’ bin Umar An-Nakha’i dll.

Menjadi Yang Paling Dicintai

18.32 by Sinta_Fabriela 0 komentar
Menjadi Yang Paling Dicintai Oleh: Muhammad Nuh

dakwatuna.com - ”Bukan daging-daging unta dan darahnya itu yang dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (Al-Hajj: 37)
Maha Agung Allah yang Menciptakan kehidupan dengan segala kelengkapannya. Ada kelengkapan pokok, ada juga yang cuma hiasan. Sayangnya, tak sedikit manusia yang terkungkung pada jeratan kelengkapan aksesoris.

Berkurbanlah, Anda akan menjadi yang paling kaya. Logika sederhana manusia kerap mengatakan kalau memberi berarti terkurangi. Seseorang yang sebelumnya punya lima mangga misalnya, akan berkurang jika ia memberikan dua mangga ke orang lain. Logika inilah yang akhirnya menghalangi orang untuk berkurban.

Jika bukan karena iman yang dalam, logika ini akan terus bercokol dalam hati. Ia akan terus menenggelamkan manusia dalam kehidupan yang sempit, hingga ajal menjemput. Sulit menerjemahkan sebuah pemberian sebagai keuntungan. Sebaliknya, pemberian dan pengorbanan adalah sama dengan pengurangan.

Rasulullah saw. mengajarkan logika yang berbeda. Beliau saw. mengikis sifat-sifat kemanusiaan yang cinta kebendaan menjadi sifat mulia yang cinta pahala. Semakin banyak memberi, orang akan semakin kaya. Karena kaya bukan pada jumlah harta, tapi pada ketinggian mutu jiwa.
Rasulullah saw. mengatakan, “Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta benda.
Tetapi, kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati).” (HR. Abu Ya’la)

Berkurbanlah, Anda akan menjadi orang sukses. Sukses dalam hidup adalah impian tiap orang. Tak seorang pun yang ingin hidup susah: rezeki menjadi sempit, kesehatan menjadi langka, dan ketenangan cuma dalam angan-angan. Hidup seperti siksaan yang tak kunjung usai. Semua langkah seperti selalu menuju kegagalan. Buntu.

Namun, tak sedikit yang cuma berputar-putar pada jalan yang salah. Padahal, rumus jalan bahagia sangat sederhana. Di antaranya, kikis segala sifat kikir, Anda akan menemukan jalan hidup yang serba mudah.

Allah swt. berfirman, “Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan ada pun yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (Al-Lail: 5-10)

Kalau jalan hidup menjadi begitu mudah, semua halangan akan terasa ringan. Inilah pertanda kesuksesan hidup seseorang. Semua yang dicita-citakan menjadi kenyataan. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “…dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang sukses.” (Al-Hasyr: 9)

Berkurbanlah, Anda akan sangat dekat dengan Yang Maha Sayang.
Sebenarnya, Allah sangat dekat dengan hamba-hambaNya melebihi dekatnya sang hamba dengan urat lehernya. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (Qaaf: 16)

Namun, ketika ada hijab atau dinding, yang dekat menjadi terasa sangat jauh. Karena hijab, sesuatu menjadi tak terlihat, tak terdengar, bahkan tak terasa sama sekali. Dan salah satu hijab yang kerap menghalangi kedekatan seorang hamba dengan Penciptanya adalah kecintaan pada harta.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk tidak berharta. Atau, menjadi miskin dulu agar bisa dekat dengan Allah swt. Tentu bukan itu. Tapi, bagaimana meletakkan harta atau fasilitas hidup lain cuma di tangan saja. Bukan tertanam dalam hati. Dengan kata lain, harta cuma sebagai sarana. Bukan tujuan.

Karena itu, perlu pembiasaan-pembiasaan agar jiwa tetap terdidik. Dan salah satu pembiasaan itu adalah dengan melakukan kurban. Karena dari segi bahasa saja, kurban berasal dari kata qoroba-yaqrobu-qurbanan artinya pendekatan. Berkurban adalah upaya seorang hamba Allah untuk mengikis hijab-hijab yang menghalangi kedekatannya dengan Yang Maha Sayang.

Berkurbanlah, Anda akan menjadi yang paling dicintai.
Setiap cinta butuh pengorbanan. Kalau ada orang yang ingin dicintai orang lain tanpa memberikan pengorbanan, sebenarnya ia sedang memperlihatkan cinta palsu. Cinta ini tidak pernah abadi. Cuma bergantung pada sebuah kepentingan sementara.

Allah swt. Maha Tahu atas isi hati hamba-hambaNya. Mana yang benar-benar mencintai, dan mana yang cuma main-main. Dan salah satu bentuk keseriusan seorang hamba Allah dalam mencari cinta Yang Maha Pencinta adalah dengan melakukan pengorbanan. Bisa berkorban dengan tenaga, pikiran, dan harta di jalan Allah. Dan sebenarnya, pengorbanan itu bukan untuk kepentingan Allah. Allah Maha Kaya. Justru, pengorbanan akan menjadi energi baru bagi si pelaku itu sendiri.